Jumat, 12 September 2008

BERITA TERKINI


Buktikan Partai Terbuka, PDS Ajukan Kiai Jadi Caleg

Hermawan Network - Jakarta, Banyak cara yang dilakukan parpol agar dikatakan sebagai partai terbuka. Untuk mewujudkan hal itu dan dapat lolos parliamentary threshold 2,5 persen, Partai Damai Sejahtera (PDS) mengambil strategi merekrut caleg artis dan para kiai, serta aktivis muslim dalam pemilu 2009.

"Untuk menunjukkan kita partai terbuka dan agar mencapai target kita, kita mengajukan caleg yang beragam. Ada Selebriti dan ada juga kiai-kiai," kata Wakil Ketua Umum DPP PDS Denny Tewu dalam diskusi di Gedung DPR Senayan, Jakarta, Jumat (22/8/2008).

Menurut Denny, sejumlah kiai dan aktivis muslim yang dicaleg-kan PDS itu tersebar di seluruh wilayah Jawa mulai dari Jawa Timur sampai Banten. Langkah ini dilakukan agar kebhinnekaan yang menjadi ciri khas negara Indonesia terus terjaga di PDS.

"Yang sudah masuk jadi caleg di nomor jadi ada dari Jatim, Jateng, Jabar dan Banten. Saya lupa namanya. Ada juga yang aktivis muslim seperti di Jember. Yang pasti kami senang sekali mereka bisa bergabung dengan kami. Karena yang penting karyanya, bukan lambangnya," terang Denny.

Untuk memenuhi target parliamentery threshold 2,5 persen, PDS akan terus berusaha melakukan pendekatan dan merangkul semua elemen bangsa. Salah satunya penduduk Jawa yang mayoritas muslim.


Reporter: Muhammad Nur Hayid

detikcom

Minggu, 24 Agustus 2008

Puasa dan Takwa (diposting dari website-nya)

Puasa dan Takwa

Oleh KH. A. Mustofa Bisri*)

Puasa diwajibkan atas kita orang-orang yang beriman. Kita yang telah berikrar lahir-batin bahwa tiada Tuhan kecuali Allah dan Nabi Muhammad SAW utusan Allah.

Sebagai hamba Allah SWT yang telah berikrar, sebenarnya apa pun perintah-Nya, kita tidak perlu dan tidak pantas bertanya-tanya mengapa, untuk apa? Hamba yang baik justru senantiasa ber-husnuzhzhan, berbaik sangka kepada-Nya. Allah SWT memerintahkan atau melarang sesuatu, pastilah untuk kepentingan kita. Karena Allah SWT Maha Kaya, tidak memiliki kepentingan apa pun. Ia mulia bukan karena dimuliakan, agung bukan karena diagungkan, berwibawa bukan karena ditunduki. Sejak semula, Ia sudah Maha Mulia, sudah Maha Agung, sudah Maha Kaya, sudah Maha Berwibawa

Kalau kemudian Ia menjelaskan pentingnya melaksanakan perintah-Nya atau menjauhi larangan-Nya, semata-mata karena Ia tahu watak kita yang suka mempertanyakan, yang selalu menonjolkan kepentingan sendiri.

Maka, sebelum kita mempertanyakan mengapa kita diperintahkan berpuasa, misalnya, Allah SWT telah berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمْ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

(QS. Al-Baqarah: 183) "Wahai orang-orang yang beriman, telah diwajibkan puasa atas kalian sebagaimana diwajibkan atas orang-orang yang sebelum kalian, agar kalian bertakwa."

Hamba mukmin di dunia ini, dalam proses menuju ketakwaan kepada Allah SWT. Karena semua kebaikan hamba di dunia dan kebahagiaannya di akherat, kuncinya adalah ketakwaan kepada-Nya. Mulai dari pujian Allah SWT, dukungan dan pertolongan-Nya, penjagaan-Nya, pengampunan-Nya, cinta-Nya, limpahan rejeki-Nya, pematutan amal dan penerimaan-Nya terhadapnya, hingga kebahagiaan abadi di sorga, ketakwaanlah kuncinya. (Baca misalnya, Q.3: 76, 120, 133, 186; Q.5:27; Q. 16: 128; Q. 19: 72; Q. 39: 61; Q. 65: 2-3; Q. 33: 70-71; Q. 49: 13).

Nah puasa, sebagaimana dijelaskan Allah SWT dalam ayat 183 al-Baqarah di atas, merupakan sarana kita untuk mencapai ketakwaan yang berarti pada gilirannya meraih kebahagian di dunia dan akherat..

Takwa sendiri lebih sering diucapkan ketimbang diterangkan. Ini barangkali karena banyaknya definisi. Intinya-sejalan dengan maknanya secara bahasa-ialah penjagaan diri. Penjagaan diri dari apa? Ada yang mengatakan penjagaan diri dari hukuman Allah dengan cara mentaati-Nya. Ada yang mengatakan penjagaan diri dari mengabaikan perintah-perintah Allah dan melanggar larangan-larangan-Nya. Ada yang mengatakan penjagaan diri dari melakukan hal-hal yang menjauhkan dari Allah. Ada yang mengatakan penjagaan diri jangan sampai mengikuti hawa nafsu dan tergoda setan. Ada yang mengatakan penjagaan diri jangan sampai tidak mengikuti jejak Rasulullah SAW. Dan masih banyak lagi pendapat yang jika kita cermati, semuanya berujung pada satu makna. Perbedaannya hanya pada ungkapan tentang dari apa kita mesti menjaga diri.

Orang mukmin yang menjaga dirinya terhadap seretan hawa nafsunya dan atau godaan setan, berarti dia menjaga diri dari mengabaikan perintah-perintah Allah dan dari melakukan hal-hal yang dilarang-Nya; berarti, dia menjaga diri agar tetap mengikuti jejak Rasullah SAW; berarti menjaga diri dari hukuman Allah dan dijauhkan dari-Nya.
Ibarat berjalan di ladang ranjau, orang yang bertakwa senantiasa berhati-hati dan waspada terhadap hal-hal yang dapat mencelakakannya.

Puasa, seperti diketahui, bukanlah sekedar menahan diri untuk tidak makan dan tidak minum. Seandainya sekedar menahan diri dari makan dan minum pun sudah merupakan latihan untuk dapat menguasai dan menjaga diri karena Allah. Dalam puasa, melakukan dan tidak melakukan sesuatu karena Allah secara nalar jauh lebih mudah. Orang yang berpuasa karena orang, misalnya, bisa saja makan atau minum di siang hari secara sembunyi-sembunyi. Makan makanannya sendiri, minum minumannya sendiri, apa susahnya? Tapi untuk apa? Karena Allah-lah yang membuat orang mukmin bersedia menahan lapar, tidak makan makanannya sendiri, menahan haus, tidak minum minumannya sendiri.

Karena Allah ini tentu saja hanya bisa disikapi oleh mereka yang iman kepada Allah. Dan seukur tebal-tipis, besar-kecil, atau kuat-ringkihnya iman itulah, ketulusan orang yang melakukan atau tidak melakukan sesuatu karena Allah. Di dalam puasa, orang mukmin digembleng untuk menjadi mukmin yang kuat yang dapat menguasai dan menjaga diri. Mukmin yang lubuk hatinya, pikirannya, hingga pelupuk matanya, merupakan singgasana Allah, sehingga tidak mudah dibuat tergiur oleh iming-iming sesaat seperti hewan, tidak terjerumus berperilaku buas dan serakah seperti binatang. Mukmin sejati, mukmin yang bertakwa kepada Allah. Bukan pengaku mukmin yang lubuk hatinya, pikirannya, hingga pelupuk matanya merupakan tempat mendekam hewan dan binatang buas, sehingga makan pun tidak peduli makan makanannya sendiri atau milik orang lain dan menunjukkan kehebatannya dengan menerkam kesana-kemari. Na’udzu billah min dzalik.

Mudah-mudahan Allah menolong dan membantu kita dalam berpuasa serta menjadikan kita hamba-hamba-Nya yang bertakwa. Amin.

*)Penulis adalah Kiai, penulis, pelukis, dan pengasuh Pondok Pesantren Raudlatuth Tholibin, Rembang.

Kamis, 24 Juli 2008

Runtuhnya Agama-Agama


Oleh Largus Tamur



Pengantar

Madrid, Medio Maret ‘03

Mentari belum juga kembali ke peraduannya, jam raksasa di Puerta del Sol (Gerbang Matahari) di jantung kota Madrid masih menunjuk ke angka 03 sore. Namun aneh, jalan-jalan utama Madrid terlihat sangat sepi. Walau tidak sekeras musim dingin tahun sebelumnya, dan sesekali matahari bersinar cerah menampakkan awan biru jernih musim dingin, namun Madrid seakan telah menjadi kota mati, jalanan lengang, tidak terlihat anak-anak bermain di taman, dan Cerveceria (kedai minum utamanya bir) yang biasanya ramai hari itu terlihat sepi. Salju di kejauhan yang menutupi puncak Navacerrada seolah telah berubah menjadi kafan tebal dan panjang yang menyelimuti Madrid.

Telah tiga hari, sejak 11 Maret 2003, Madrid berubah menjadi kota mati. Di mana-mana hanya terdengar tuturan kisah sedih dan tragis. Di ujung-ujung jalan, nafas kesedihan dan rona duka menggantikan ucapan “buenos días” (selamat pagi) kala langkah-langkah kaki bersua arah. Berita-berita televisi dan surat kabar hanya berisi warta duka, kecewa dan kemarahan yang tidak tahu ditujukan kepada siapa. Madrid, Barcelona, Valencia dan Sevilla serta seluruh kota di Spanyol mengadakan parade duka sekaligus mengutuk serangan fajar teroris yang meluluhlantakkan lima stasisun metro dan kereta api serta menewaskan lebih dari dua ratus manusia.

Angela, gadis 5 tahun, sore itu masih terbaring lemah di kamar 514 rumah sakit Gregorio Marañon (baca: maranyon). Di samping tempat tidurnya duduk termenung lesu kakeknya, menampakkan wajah yang makin mengerut oleh usianya yang telah 84 tahun dan mendung kesedihan yang dalam tiga hari telah menggayuti sisa hidupnya. Titik-titik hangat mulai mengaliri pipi sang gadis cilik. Ia menangis sedih dalam kesunyian. Mendung kesedihan menyelimuti hidupnya yang masih begitu belia . . . Metro (kereta bawah tanah di Madrid) yang melintas dengan kecepatan sedang. . . ibunya . . bapaknya yang menggandeng lengannya . . . teman-teman TK di Colegio Claret (Sekolah Claret) . . . masih terekam indah di ingatannya. Namun mendadak ingatannya beralih ke ledakan bertubi-tubi . . . bum . . bum . . .b . u . m . . . dari Metro yang ditumpanginya. ‘Socorro . . . soccoro . . . soccoro . . .’ teriakan minta tolong itu masih terasa begitu pedih. Dalam sekejap pegangan tangan ayahnya terlepas . . . ayah dan ibunya meninggal seketika dan Angela kecil tak sadarkan diri terkena serpihan logam badan Metro yang hancur berkeping-keping. Semuanya . . . dan semuanya . . . masih begitu jelas dan pedih di ingatannya . . . hatinya perih . . . ia kehilangan orang tua . . .ia juga kehilangan lengannya . . .Tak terasa air matanya mengalir deras membanjiri sekujur wajah dukanya . . . lalu ia meraung dalam tangisan dalam pelukan kakeknya.[1]

Peristiwa 11/ 3 Madrid (yang kemudian dikenal dengan istilah el marzo negro), 11/ S New York, bom Bali jilid 1 & 2, Ambon, Poso dan sejumlah konflik atas nama agama di tanah air membawa kita kepada gugatan penuh tanya, apa yang terjadi jika agama yang mestinya dipahami sebagai sebuah realitas terpilah (fragmentary reality), tidak utuh (partial) mengklaim kebenaran tunggal dan eksklusif, menafikan keberadaan kebenaran-kebenaran yang lain? Ke mana arah agama-agama yang menggunakan doktrin formulatif berupa ayat-ayat suci untuk merendahkan nilai kemanusiaan serta pencapaiannya dalam sejarah pergulatan nilai kemanusiaan? Apakah agama dalam dirinya sendiri (in se) mengandung kekerasan dan benih-benih kebencian? Apakah mustahil sekaligus irasional melakukan revaluasi (peninjauan kembali) doktrin keagamaan yang secara implisit juga berarti revaluasi pandangan Ketuhanan? Perendahan nilai kemanusiaan dan kehidupan kini dan di sini (hic et nunc) oleh agama inilah yang mendorong Friedrich Nietzsche, filsuf eksistensialis-atheis, ingin meruntuhkan agama lewat pengejaran dan ‘pembunuhan’ Tuhan.

Tanda-Tanda Awal Keruntuhan Agama-Agama

Tema besar yang selalu hadir dalam pergulatan dan pemikiran sepanjang zaman dan terutama di zaman ini adalah humanisme. Itu berarti humanisme menjadi kriteria apakah sebuah pemikiran, perjuangan diterima/ ditolak. Pada sisi lain, terorisme sebagai ekspresi fanatisme sangat bertentangan dengan humanisme. Karena bertentangan dengan pesan dan cita-cita besar umat manusia, maka terorisme agama dalam apapun bentuknya membersitkan sebuah pesan awal dekadensi dan runtuhnya supremasi/ dominasi agama.

Tanda-tanda awal keruntuhan agama itu telah dimulai pada pertengahan pertama dekade ini. Dua puluh satu bulan setelah kita membuka milenium ketiga, ketika penghuni bumi masih dibuai oleh cita-cita dan harapan milenium ketiga, nurani peradaban dan kemanusiaan dihancurleburkan oleh serangan teroris. Tanggal 11 September 2001 telah menjadi saat paling tragis sekaligus sepenggal waktu saksi kebrutalan radikalisme ekstrimis.

Tanda-tanda keruntuhan itu lalu dipertegas oleh munculnya gelombang radikalisme dan fundamentalisme Amerika Serikat. Dewan AS untuk Hubungan Islam-Amerika Serikat (CAIR) pada 14 Juni 2007 melaporkan jumlah kasus diskriminasi terhadap kalangan muslim meningkat 25 persen antara tahun 2005 dan 2006. Jumlah kasus dan insiden mencapai rekor tertinggi, yaitu 2.467 kasus. CAIR juga mencatat 167 laporan kejahatan yang didasarkan pada sikap anti-Muslim pada tahun 2006, atau meningkat 9,2 persen dibandingkan dengan tahun 2005. Meningkatnya jumlah kasus kekerasan yang didasarkan pada sikap anti-muslim dicatat juga oleh pusat riset The Pew. Pada Mei 2007, 53 persen umat muslim yang tinggal di AS meyakini hidup mereka menjadi lebih sulit sejak 2001 karena diskriminasi pemerintah.[2]

Fanatisme tidak hanya terjadi dalam relasi antar-agama/ ajaran, tetapi juga intra-agama dalam melihat dan menafsir kebenaran. Pada 29 Juli 1994, dokter John Britton, seorang dokter pro-choice[3] yang mendukung praktek aborsi, dibunuh di klinik aborsi Pensacola Florida oleh Pendeta Paul Jennings Hill. Yang menarik dari peristiwa ini adalah bahwa Pendeta Hill membunuh sang dokter karena ia yakin bahwa sang dokter dan yang lain yang mendukung aborsi telah melanggar hukum Tuhan (pro-life) sehingga tidak pantas hidup. Pada akhir pengadilan yang menjatuhkan hukuman mati terhadapnya, Pendeta Hill katakan “saya sama sekali tidak menyesal, malah saya yakin akan mendapat pahala besar di surga”.

Pada kedua titik di atas, agama berubah dari jalan pencarian kebenaran, inspirasi perdamaian dan persaudaraan menuju pemutlakan identitas, jati diri yang tertutup dan soliter. Ketika agama telah berkembang ke arah identitas seperti ini maka ia menjadi ‘sebuah penjara’. Garis demarkasi yang memisahkan yang satu dari yang lain sebagai akibat dari terjebaknya agama ke dalam ‘ruang identitas semata’ meminjam istilah Mohammed Arkoun, membuat penganut agama melihat yang lain sebagai musuh yang harus ditakluk dan dibinasakan. Di sini relasi yang terbangun adalah relasi eksklusif-ritual, kelompok yang sama, seagama. Cara pandang terhadap hubungan sosial juga terbangun atas prinsip ‘kita’ dan ‘mereka’. ‘Kita’ adalah kelompok yang harus dilindungi, dipertahankan dan harus berkuasa. Sedangkan ‘mereka’ adalah kelompok lawan/ musuh yang harus dikalahkan, dipermalukan dan dikuasai. Homogenitas adalah kata kunci untuk memahami fenomena ini. Kebenaran hanya memiliki satu sisi, yaitu sisi ‘kita’ sedangkan ‘mereka’ tidak punya kebenaran.

Menyambut Fajar Kesadaran Yang Membebaskan

Tetapi apa artinya keruntuhan agama di sini? Keruntuhan agama di sini tidak berarti lenyapnya sama sekali sebuah agama, seperti yang terjadi pada begitu banyak kepercayaan kuno. Di sini runtuhnya agama-agama berarti beralihnya kiblat referensi kebenaran dan moral dari doktrin agama ke kesadaran personal. Kesadaran personal berarti pemahaman akan realitas diri, sosial maupun kosmos sebagai kesatuan yang tidak terpisahkan. Kesadaran ini tidak lahir dari imposisi eksternal tetapi sebagai hasil pergulatan dan pencarian personal terhadap pertanyaan-pertanyaan yang selalu hadir dalam realitas hidup insani.

Oleh berkembangnya kesadaran personal maka posisi agama sebagai kriteria kebenaran dan moral akan terpinggirkan. Jika sampai saat ini kebenaran moral dan kehidupan ditentukan oleh seberapa jauh ia bersentuhan dengan doktrin agamis, maka di masa depan kriterianya akan terbalik: sebuah ajaran agama adalah benar dan baik sejauh itu sesuai dengan kesadaran personal dan humanis.

Dengan ini bisa dikatakan bahwa agama masa depan adalah agama personal ketimbang kolektif, lebih eksistensial dan humanis ketimbang doktrinal-transendental. Jika kesadaran personal kian berkembang maka sistem, bangunan agama lama yang membelenggu kesadaran subyek akan runtuh dengan sendirinya. Inilah aspek yang paling diagungkan Nietzsche. Ia katakan ‘temuilah dirimu baru kemudian kalian menemukan aku.’[4] Kesadaran personal menuntut agar subyek tidak sekedar agen pasif melainkan aktif. Itu artinya, apapun yang dihadapi, dialami dan dihidupi manusia termasuk beragama tidak diterimanya sebagai sebuah keterberian semata (given/ Gabe) dan warisan dari leluhur atau tradisi melainkan sebagai sebuah pencarian personal. Ia tidak lagi bergerak dalam kungkungan formalisme superfisial dalam bentuk ritual, melainkan oleh sebuah relasi intim dan personal dengan pribadi yang ia imani. Keterlibatannya dalam sebuah agama tidak semata-mata sebagai sebuah pencarian identitas melainkan sebagai sebuah persekutuan yang sadar, dekat sekaligus berjarak. Dalam kedua sikap seperti ini (dekat–berjarak) barulah subyek mampu mencapai kebenaran. Inilah agama sejati sekaligus yang membebaskan.

Largus Tamur

Setelah menyelesaikan studi filsafat di Fakultas Filsafat Unika Widya Mandira Kupang (2002), Penulis mendalami Teologi di Universidad Potificia Comillas Madrid Spanyol (2002-2006).



[1] Serangan teroris yang menewaskan lebih dari dua ratus orang di Madrid terjadi tanggal 11 Maret 2003. Mereka meledakkan bom di lima staisun Kereta Api, yang salah satu jalurnya penulis gunakan untuk pergi dan pulang dari kampus di bilangan Arguelles jl. Juan Alvarez Mendizabal no 65 Madrid. Angela, gadis kecil korban serangan teroris itu juga penulis kenal baik. Narasi kisah Angela sepenuhnya inovasi penulis.

[2] KOMPAS, 16 JUNI 2007, hal. 10.

[3]‘Pro-choice’ dan ‘pro-life’ adalah dua sikap, pandangan sekaligus prinsip dalam perdebatan bioetika terutama dalam dua abad terakhir ini. ‘Pro-choice’ adalah prinsip yang menegaskan bahwa dalam situasi-situasi ekstrim seperti kelumpuhan total adalah pilihan bebas sekaligus hak dasar seorang individu untuk memutuskan apa yang baik dan berguna bagi hidupnya. Itu berarti berdasarkan pertimbangan dan pilihan bebas, ia bisa melakukan euthanasia atau aborsi. Pada bandul prinsip yang lain ‘pro-life’ ditegaskan bahwa hidup dan mati manusia adalah anugerah Tuhan. Karena itu dalam situasi apapun manusia tidak berhak untuk mengambil tindakan yang melawan kehidupan itu sendiri, seperti melakukan euthanasia atau aborsi.

[4] Friedrich Nietzsche, Thus Spoke Zarathustra (London: Penguin Books, 1969), hal. 103. Buku ini diinggriskan oleh R. J. Hollingdale dari judul asli Also Sprach Zarathustra.

Religiositas dan Persaudaraan antar Sesama Umat Manusia

Oleh Ephorus em D.DR.S.A.E.Nababan

Religiositas atau kesalehan adalah bentuk keber-agama-an yang dicita-citakan manusia beragama. Seseorang memenuhi hukum-hukum dan peraturan-peraturan agama serta mengikuti upacara-upacara agama, karena ingin menjadi saleh. Kesalehan yang kita warisi sangat dipengaruhi pietisme. Yaitu aliran yang mengajarkan bahwa setiap orang yang percaya harus mengusahakan kesempurnaan, dan persekutuan orang percaya harus meniru jemat purba. Pertobatan, lahir kedua kali, hidup suci sangat diutamakan. Hal-hal yang dianggap duniawi kurang diperhatikan. Pembaruan dunia akan dicapai dengan pembaruan manusia. Manusia sebagai individu mendapat tempat yang sentral. Akibatnya perhatian terhadap masalah-masalah masyarakat menjadi terbengkalai.

Di dalam Perjanjian Lama tokoh kesalehan yang diidamkan adalah Ayub:”orang itu saleh dan jujur; ia takut akan Allah dan menjauhi kejahatan” (1:1b). Pada zaman Yesus juga masih kedapatan orang-orang saleh seperti Zacharia dan Elisabeth “Keduanya adalah benar di hadapan Allah dan hidup menurut segala perintah dan ketetapan Tuhan dengan tidak bercacat” (Luk 1: 6). Istilah “benar di hadapan Allah” diartikan sama dengan “saleh.” Kaum Farisi dan Ahli Taurat adalah juga kelompok agamawan yang menjunjung tinggi kesalehan. Kritik Yesus kepada mereka adalah pembohongan diri (kemunafikan) dalam pemahaman upah, sikap tanpa kasih dalam pemisahan diri mereka dari kaum awam (orang tak berpendidikan) dan orang berdosa, kesombongan di hadapan Allah, penyamarataan ajaran-ajaran lisan manusia dengan Kitab Suci (Mat 15: 2-3, 23:2).

Kesalehan ikut juga dibentuk oleh zamannya. Pada zaman Yesus bangsa Jahudi berada dalam kekang penjajahan Roma, dalam keadaan sosial-ekonomi yang sulit, kemiskinan yang merata, jumlah pengangguran yang banyak (bdn Mat 20: 1dst). Paling sedikit dalam tiga hal orang-orang Farisi dan Ahli Taurat menonjolkan kesalehan mereka di tengah kehidupan masyarakat yang mengalami krisis. Mereka inilah yang bertahan memelihara agama Jahudi melewati kehancuran Yesruslem tahun 70. Ketiga bentuk kesalehan yang disoroti Yesus adalah memberi sedekah (”janganlah engkau mencanangkan itu, seperti yang dilakukan orang-orang munafik di rumah-rumah ibadat dan di lorong-lorong” Mat 6: 2), berdoa ( “jangan seperti orang munafik, yang suka mengucapkan doanya dengan berdiri dalam rumah-rumah ibadat dan pada tikungan-tikungan jalan raya, supayan mereka dilihat orang; jangan bertele-tele berdoa” Mat 6: 6-8) dan berpuasa (“Jangan muram mukamu seperti orang munafik” Mat 6: 16-18).

Agaknya di dalam perjalanan sejarah, pada saat keadaan genting, kesalehan bisa menjadi introvert dan menciut menjadi masalah perorangan belaka, melupakan dimensi luas yang dicakupnya. Kesalehan sebenarnya mencakup dan tidak pernah lepas dari hidup bersama dalam masyarakat. Di dalam Yesaya 58 tentang “kesalehan yang palsu dan sejati”, jelas dikatakan TUHAN:”Berpuasa yang Kukehendaki, ialah supaya engkau membuka belenggu-belenggu kelaliman, dan melepaskan tali-tali kuk, supaya engkau memerdekakan orang yang teraniaya dan mematahkan setiap kuk, supaya engkau memecah-mecah rotimu bagi orang yang lapar dan membawa ke rumahmu orang miskin yang tak punya rumah, dan apabila engkau melihat orang telanjang, supaya engkau memberi dia pakaian dan tidak menyembunyikan diri terhadap saudaramu sendiri” ( ay 6-7). Kepedulian akan kehidupan yang merdeka dan bebas serta berkecukupan karena sharing dengan semua orang adalah inti yang sangat menentukan dalam kesalehan.

Hal ini bergema dan paling jelas diungkapkan pada pemberitahuan tentang penghukuman terakhir dalam Mat 25: 31 – 46. Kejutan yang terjadi yang tidak diharapkan baik oleh mereka yang ada di sebelah kanan mau pun mereka yang ada di sebelah kiri raja itu adalah bukan hanya keberpihakan dari, melainkan identifikasi diri Raja Hakim itu sendiri dengan orang-orang miskin (“ketika Aku lapar, haus, seorang asing, telanjang, sakit, dalam penjara”). Dan ketidak-acuhan dan ketidak-pedulian terhadap orang-orang ini membatalkan semua kesalehan yang mengikuti aturan-aturan, hukum, kebiasaan, dan ritus-ritus agama saja. Akhirnya yang menentukan bukan apa yang terjadi pada diri sendiri, melainkan apa yang diri sendiri lakukan kepada orang lain yang menderita, miskin, tidak masuk kira. Di sini kesalehan dikembalikan ke arti yang sebenarnya, yakni ketergantungan dan keterlibatan dengan kehidupan sesama manusia dalammasyarakat.

Dari kutipan-kutipan di atas, jelaslah bahwa kesalehan mempunyai jangkauan yang menyeluruh. Artinya, kesalehan tidak saja menyangkut kehidupan rohani atau kehidupan agama seseorang lepas dari yang lain, melainkan selalu dalam kaitannya dengan sesama manusia dalam masyarakat yang sama, tanpa diskriminasi. Kegiatan membebaskan dan membagi (sharing) dalam Yesaya 58 bergema juga dalam Mat 25. Perbuatan yang dilakukan untuk “salah seorang dari saudaraKu yang paling hina ini” adalah juga protes terhadap struktur mayarakat yang menyebabkan aneka penderitaan tersebut. Dalam kaitan ini jugalah Yesus mengembalikan pemahaman sesama manusia itu kepada aslinya. Pada zaman Yesus, pemahaman mengenai sesama manusia bagi orang Jahudi adalah sesama se-bangsa dan se-agama. Hal inilah yang dikritik Yesus dalam perumpamaan tentang “Orang Samaria yang murah hati” dalam Luk 10: 25 – 37. Dalam menyebut kedua orang pertama yang melihat korban perampokan itu, seorang imam dan seorang Lewi (ay 32.33), sebagai mewakili kesalehan umum sebagai agamawan, “tetapi ia melewatinya dari seberang jalan”,Yesus mengungkapkan kesalehan formal yang tidak mempunyai dampak terhadap sesama , terutama yang menderita. Yesus meluruskan pertanyaan ahli Taurat yang rindu memperoleh hidup yang kekal itu, dari “siapakah sesamaku manusia? (ay 29b) menjadi “Siapakah di antara ketiga orang ini, menurut pendapatmu, adalah sesama manusia dari orang yang jatuh ke tangan penyamun itu? ( ay 36). Dan yang paling menentukan adalah ungkapan:”Pergilah, dan perbuatlah demikian!” Bisa dibayangkan betapa dunia ini berputar dalam benak ahli Taurat yang rindu kehidupan yang kekal itu, mendengar bahwa dia disuruh meniru bukan tokoh-tokoh Israel sebagai ahli taurat, yang jelas dia hafal semua namanya, melainkan orang Samaria itu, yang sangat dibenci dan dianggap hina dan haram oleh orang Jahudi. Inilah yang disebut perombakan semua nilai-nilai warisan!

Kesalehan yang diwarisi orang Kristen Batak tidak lepas dari pengaruh kesalehan yang dibawa oleh para penginjil pertama, dalam bentuk kehidupan yang menjauhkan diri dari “hal-hal duniawi.” Oleh sebab itu, kesalehan kita banyak dalam bentuk “tidak”. Kesalehan ini juga diperkuat oleh kesalehan dari Perjanjian Lama, yang mengutamakan banyaknya larangan-larangan dan yang juga lebih menenkankan perhatian ke hal-hal rohani. Akibat dari gabungan kesalehan ini maka terbentuklah gaya hidup yang bersikap-mendua, yang menceraikan “yang duniawi” dari “yang rohani.” Umumnya orang membedakan bahkan memisahkan “hidup hari Minggu” dari “hidup hari Senen sampai Sabtu.” Bisa saja seseorang “saleh” pada hari Minggu, tetapi bebas hidup “sebagai manusia biasa” – dalam arti melakukan segala kesalahan dan dosa, seperti KKN, berbohong dsb – pada hari Senen sampai Sabtu. Kesalehan gabungan itu juga cenderung introvert, dan lambat laun sangat individualistis, sehingga kurang memperhatikan sesama. Apalagi dalam “gereja suku” yang sangat menekankan kesukuan, pemahaman mengenai sesama manusia bisa cenderung terbatas atau hanya mengutamakan pada pemahaman sesama warga suku itu saja. Sama halnya seperti pemahaman Jahudi pada zaman Yesus, bahwa sesama manusia itu adalah sesame-manusia-orang-Jahudi. Pandangan seperti ini makin meruncing lagi ke fanatisme, bila keadaan sosial, ekonomi dan politis makin sulit. Kelompok orang seperti iitu bisa jadi eksklusif. Kelompok yang tercepit selalu cenderung menggali dasarnya yang lama untuk memperoleh fundasi yang kuat, sekali pun acap tidak relevan lagi. Inilah yang biasa kita sebut fundamentalisme.

Menjelang akhir abad yl, banyak pemikir memperkirakan bahwa dalam abad 21 ini akan bangkit kelompok-kelompok agama dalam bentuk yang fundamentalistis, eksklusif dan fanatik, serta agresif. Di dalam pemahaman kelompok-kelompok ini, sesama manusia adalah sesama anggota kelompoknya saja.

Dalam menghadapi gejala inilah gereja perlu menunjukkan bahwa pemahamnya sendiri mengenai sesama manusia adalah sesama manusia tanpa pandang perbedaan ras, bangsa, suku, budaya, bahasa, adat, status sosial-ekonomi, jender dlsb. Inilah yang disampaikan perumpamaan tentang “Orang Samaria yang murah hati” tadi. Pemahaman ini makin penting karena kesadaran bahwa kita hidup dalam masyarakat majemuk, atau lebih tepat lagi, masyarakat multikultural, makin bertambah. Dan masyarakat multikultural yang hidup dalam era globalisasi akan makin menyadari bahwa bayak masalah-masalah yang merupakan masalah-masalah bersama, yang hanya dapat diatasi bila diatasi secara bersama-sama. Dengan kata lain, fundamentalisme, eksklusivisme dan fanatisme saja tidak mungkin menyelesaikan sesuatu masalah, yang sudah menjadi masalah bersama dalam masyarakat.

Umpamanya, masalah keadilan adalah unsur yang sangat menentukan dalam setiap kegiatan mengusahakan perdamaian. Dan keadilan adalah bagian integral dari kesalehan yang sejati. Amos memberitakan bahwa ibadah Israel dibenci TUHAN, karena Israel tidak memperdulikan keadilan terutama terhadap orang-orang miskin (5:21ds). Yesus mengkritik ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi – golongan top dalam hal kesalehan! – karena sekalipun mereka membayar persepuluhan sampai hal-hal kecil, “tetapi yang terpenting dalam hukum Taurat kamu abaikan, yaitu keadilan dan belas kasihan dan kesetiaan. Yang satu harus dilakukan dan yang lain jangan diabaikan” (Mat 23: 23).

Oleh sebab itu, ganti fundamentalisme agama, teologi harus membebaskan gereja dari perangkap kemunafikan dan kesalehan yang individualistis, untuk memungkinkan pengembangan pengakuan sesama yang universal dan untuk mendorong kerjasama menghadapi masalah-masalah bersama dalam masyarakat. Teologi adalah hasil pergumulan- rangkap dari gereja.Yaitu pada satu pihak pergumulan Gereja denganTuhannya dalam arti menghayati kebenarandan anugerah Allah di dalam Ysesu Kristus, dan di pihak lain sekaligus merupakan pergumulan dengan kebudayaan dan masyarakat di tengah-tengah mana Gereja itu hidup. Pergumulan-rangkap ini tidak akan pernah selesai. Bahkan di dalam suatu zaman yang cepat berkembang dan membawa perubahan-perubahan, pergumulan rangkap ini makin dibutuhkan, bila mau hidup dengan sadar dan bertanggungjawab di tengah zaman yang cepat berubah-ubah itu.

Awal Oktober 2007

Ephorus em D.DR.S.A.E.Nababan adalah mantan ketua PGI dan Ephorus HKBP.

Kamis, 17 Juli 2008

PDS Tolak RUU Perbankan Syariah

(Berita)

INILAH.COM, Jakarta - Partai Damai Sejahtera (PDS) menolak ikut menyetujui pengesahan RUU tentang Perbankan Syariah menjadi undang-undang. Partai itu juga menyampaikan minderheids nota (menyatakan tidak ikut bertanggungjawab) atas pengesahan undang-undang tersebut.

Sikap itu disampaikan Jurubicara Fraksi PDS Retna Rosmanita Situmorang dalam Rapat Paripurna DPR RI di Gedung DPR/MPR Jakarta, Selasa (17/6). Dalam rapat paripurna yang dipimpin Ketua DPR Agung Laksono, fraksi-fraksi menyampaikan pandangan akhir atas RUU tersebut.

Rosmanita menjelaskan, hal-hal yang berkaitan dengan kegiatan perbankan syariah telah diatur dalam UU No 7/1992 tentang Perbankan sebagaimana telah diubah dengan UU No 10/1998. Karena itu, tidak perlu ada lagi ketentuan undang-undang khusus yang mengatur kegiatan perbankan syariah.

Berdasarkan kunjungan anggota Panja Perbankan Syariah ke negara tertentu, produk perbankan syariah dalam bentuk undang-undang hanya merupakan turunan dari UU Perbankan yang ada, bukan dalam undang-undang yang khusus.

Fraksi PDS mengingatkan mengenai pembentukan dan keberadaan NKRI, baik dulu, sekarang, maupun yang akan datang, bahwa semua undang-undang berlaku umum dan tidak memasukkan prinsip-prinsip kelompok saja ke dalam sistem hukum nasional. Hal itu akan berimplikasi pada dualisme hukum.

"Maka dengan ini, Fraksi PFDS menolak RUU tentang Perbankan Syariah untuk disahkan menjadi undang-undang dan meminta agar pendapat Fraksi PDS dalam dimasukkan sebagai minderheids nota. Fraksi PDS tidak ikut bertanggung jawab atas dampak yang ditimbulkan di kemudian hari," katanya.

Sikap tersebut, menurut Retna, didasarkan pada masukan berbagai pihak yang mengerti dan memahami arti, filosofi, maksud dan tujuan, baik yang tersurat maupun yang tersirat dalam kata 'syariah' negara yang hanya dianut dalam agama tertentu. ***

Jonni Silaban Terpilih Secara Aklamasi

(Berita)

Jonni Silaban akhirnya terpilih secara aklamasi sebagai ketua DPC Partai Damai Sejahtera (PDS) Tapteng periode 2005-2010 pada pelaksanaan Musyawarah Cabang I PDS Tapteng yang dilaksanakan di GOR Pandan, Sabtu( 8/10), yang dibuka secara resmi oleh ketua DPW PDS Sumut DR (HC) Drs Toga Sianturi MA, dengan tema “Meningkatkan Konsolidasi dan Pembaharuan menuju pemenangan Pemilu 2009.”

Terpilihnya Jonni Silaban sebagai ketua DPC PDS Tapteng, setelah kandidat ketua lainnya yakni mantan ketua DPC PDS Tapteng Drs Nimrot Hutagalung yang kembali mencalonkan diri sebagai ketua DPC, tidak memenuhi syarat lagi sebagai calon ketua untuk dipilih forum Muscab, sebab syarat dukungan suara minimal 30 % dari 49 peserta Muscab tidak dapat dimiliki oleh Drs Nimrot Hutagalung. Pada saat pemilihan Balon menjadi calon ketua, Drs Nimrot hanya memperoleh dukungan 11 suara, sedangkan Jonni Silaban memperoleh dukungan 35 suara, sedangkan 3 suara lainnya dianggap batal. Sehingga, Jonni Silaban menjadi satu-satunya calon ketua DPC PDS Tapteng untuk ditetapkan secara aklamasi oleh seluruh peserta Muscab.

Ketua DPW PDS Sumut DR (HC) Drs Toga Sianturi MA dalam sambutannya mengatakan, sejauh ini baru 7 DPC PDS di Sumut yang telah melaksanakan Muscab. Direncanakan sampai akhir tahun 2005, seluruh DPC PDS di Sumut telah selesai melaksanakan Muscabnya sebagai syarat untuk mengikuti Munas PDS tahun 2006 yang rencananya berlangsung di Manado Propinsi Sulawesi Utara.

Menurut Toga Sianturi MA, pengurus maupun kader PDS di daerah hendaknya mampu lebih dekat dengan gereja dan sekaligus berperan sebagai pelayan (Parhobas) di tengah-tengah gereja, sebab bila mau menjadi anak kandung gereja, kita harus dekat dengan gereja dan harus mau mengabari aspirasi Kristen di tengah masyarakat, katanya.

Sementara itu, ketua DPC PDS Tapteng terpilih Jonni Silaban dalam sambutannya mengajak seluruh kader PDS Tapteng untuk bersatu memperjuangkan kesejahteraan masyarakat Tapteng dengan kasih dan damai yang diberikan di tengah-tengah masyarakat.

Dijelaskannya, bahwa program kerja yang ingin dilakukannya di kepengurusan yang baru adalah melaksanakan KKR setiap bulannya di masing-masing DPRan (Kecamatan-Kecamatan) di Tapteng, selain upaya konsolidasi internal partai sampai ke tingkat desa dengan cara mengoptimalkan seluruh potensi yang ada untuk kebesaran partai PDS, sekaligus sebagai upaya menjalin kebersamaan dan persatuan di tubuh PDS Tapteng.

Usai pemilihan ketua baru, Muscab I PDS Tapteng di GOR Pandan juga dirangkai dengan acara pelantikan pengurus baru DPC PDS Tapteng periode 2005-2010 yang dipimpin oleh Ketua DPW PDS Sumut DR (HC) Drs Toga Sianturi MA didampingi sekretaris DPW Drs Penyabar Nakhe dan Bendahara DPW Pdt Apul Silalahi STh, yang ditandai dengan pemberian Pataka PDS dan PIN pengurus pada ketua DPC PDS Tapteng yang baru.

Pengurus DPC PDS Tapteng yang dilantik antara lain, ketua Jonni Silaban, Sekretaris Junjungan Hutagalung dan Bendahara Timbul Hutabarat SH.

Muscab PDS Tapteng berjalan dengan lancar, walau seluruh peserta Muscab sempat dihebohkan dengan datangnya gempa dan menjadikan seluruh peserta Muscab berhamburan keluar GOR Pandan.

Tetap Komit Mendukung Drs Tuani L Tobing/Ir MA Effendy Pohan

Sampai saat ini seluruh DPRan (Kecamatan) maupun pengurus Desa beserta seluruh kader PDS di kabupaten masih tetap komit untuk mendukung sepenuhnya pasangan Drs Tuani L Tobing/Ir MA Effendy Pohan sebagai Balon Bupati Tapteng.

Hal itu dikatakan ketua Panitia Muscab I PDS Tapteng Josia Hutagalung didampingi Humas Panitia Muscab P Silalahi, di sela reses Muscab di GOR Pandan, Sabtu (8/10) menanggapi sikap arus bawah PDS Tapteng terhadap Balon PDS yang telah didaftarkan ke KPUD Tapteng.

Menurut Josia Hutagalung, seluruh kader PDS di Tapteng sampai saat ini hanya memiliki satu calon saja untuk didukung pada Pilkada Tapteng mendatang yakni pasangan Drs Tuani L Tobing/Ir MA Effendy Pohan, sebab figur tersebut diketahui selama ini telah berbuat banyak bagi keberadaan PDS di Tapteng, sehingga sebagai partai yang mengusung kata Damai dan Sejahtera, tentunya akan selalu setia pada Drs Tuani L Tobing/Ir MA Effendy Pohan.

Selain itu, yang lebih tahu akan kondisi di daerah adalah kader di daerah sendiri, bukan pihak DPP sebab sudah seharusnya pihak DPP PDS lebih mempertimbangkan yang terbaik bagi kader PDS, daripada berusaha memaksakan kehendak untuk memajukan Balon yang tidak dikehendaki arus bawah.

Drs Tuani L Tobing menurut Josia Hutagalung sudah terbukti dan teruji dalam membawa kemajuan pembangunan di Tapteng, termasuk dalam menyebarkan kasih dan damai kepada seluruh lapisan masyarakat Tapteng sebagaimana yang diinginkan oleh PDS sendiri.

Di kesempatan itu, Josia Hutagalung mewakili kader PDS Tapteng dan ketua panitia Muscab I PDS Tapteng mengharapkan agar ketua terpilih dapat lebih memahami kehendak arus bawah yang menginginkan pasangan Drs Tuani Tobing/Ir MA Effendy Pohan sebagai pilihan terbaik seluruh kader PDS di Tapteng saat ini.

Ditegaskannya, seluruh kader PDS di tingkat bawah siap untuk memenangkan Drs Tuani L Tobing/Ir MA Effendy Pohan pada Pilkada mendatang, demi kelanjutan kemajuan pembangunan Tapteng ke depan, sebagaimana yang tertuang dalam konsep Tapanuli Growth, katanya. ***

Sumber : (TPT/i) Harian SIB ,Pandan (broken link)

F-PDS Tolak RUU Perbankan Syariah

(Berita)

Fraksi Partai Damai Sejahtera (F-PDS) DPR RI menyatakan penolakannya terhadap Rancangan Undang-Undang (RUU) tentang Perbankan Syariah dan RUU Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) yang tengah dalam pembahasan di DPR.

Surat penolakan bernomor A.749/F.PDS/ DPR-RI/II/ 2008 ditujukan untuk Ketua DPR RI Agung Laksono dan diterima Persda pada diskusi publik tentang RUU Perbankan Syariah di Jakarta, Jumat (14/3).

Sejumlah alasan dikemukakan dibalik penolakan itu diantaranya RUU tersebut bertentangan dengan Pancasila dan UUD 45 dan mengancam NKRI.
Surat penolakan ditandatangani Ketua Fraksi PDS Pastor Saut M Hasibuan dan Sekretaris Carol Daniel Kadang.

Pada bagian lampiran surat itu, anggota Komisi XI dari Fraksi PDS Retna Rosmanita Situmorang mengatakan fraksinya menolak seluruh draf daftar inventaris masalah (DIM) kedua RUU tersebut.

Penolakan dilakukan setelah fraksinya melakukan serangkaian dialog dan pembahasan dengan berbagai stakeholder seluruh Indonesia dan beberapa inti RUU tersebut yang tidak sesuai konsep NKRI yang berdasarkan Pancasila. (Persda Network/Aco).***

Alamat STT DOULOS

SEKOLAH TINGGI TEOLOGI DOULOS
Kampus dan Seketariat
Jl. Tugu No. 3 Cipayung, Jakarta Timur

Telp. (021)8451727
Jl. Taman Pulo Asem Utara No. 60
Rawamangun – Jakarta Timur
Telp. (021) 70970651

Alumni STT DOULOS

Jumlah alumni STT Doulos saat ini sudah 728 orang. Para lulusannya saat ini melayani menjadi pendeta, guru agama Kristen, pendeta militer, anggota DPRD, angotta DPR-RI, wakil bupati, aktivis partai, wartawan dan penulis.

Alamat e-mail

STT Doulos; admin@sttdoulos.com

Alumni Doulos; alumni.doulos@ymail.com


Powered By Blogger

Pengasuh

Foto saya
Bekasi, Jawa Barat, Indonesia
Pengalaman Kerja · Saat ini Wartawan majalah Budaya Batak TAPIAN (budaya) Agustus 2007 Wartawan di Majalah Berita Indonesia (sekuler) 2005-July 2007 (sekuler) · Wartawan di Majalah Devotian (rohani) 2005 · Wartawan Majalah Industri & Bisnis (sekuler)2004, Asisten Manager di Penerbit Erlangga 2003-2004.Sirlulasi Tabloid Jemaat Indonesia (rohani)1999-2003 Pengalaman menulis di media cetak. (1)Penulis kolom opini di majalah narwastu pembaruan,Koran Batak Pos, Koran Mitra Bangsa,majalah Horas,Suara HKBP. Menulis di website; www.naiposps.com,www.kabarindonesia.com www.glorianet.org